Categories
Writing

Sastra Anak

Mendidik anak merupakan upaya menemukan apa yang sejatinya dititipkan Tuhan pada anak. Tidak ada satupun ciptaan Tuhan yang sia-sia. Tuhan pasti punya maksud kenapa anak itu ada di dunia. Bahkan cacing sekalipun memiliki manfaat untuk kesuburan tanah. Begitu pun dengan kotoran kambing.

Tuhan memberi kehendak kepada manusia. Manusia diberi kebebasan untuk iya atau tidak, ke kanan atau ke kiri, berjalan atau berhenti, memilih warna merah muda atau hijau, makan donat atau gethuk; dan berbagai macam kemungkinan variabel lain mulai dari yang sederhana hingga kompleks. Apa pun yang dipilih, ujungnya harus tetap bermuara menuju upaya kembali kepada Tuhan.


Saya mendapatkan sebuah buku “Sastra Anak” di perpustakaan umum Kabupaten Tegal hari ini (14 Januari 2020) di rak berlabel “Kesusastraan”. Pas sekali. Karena tidak lama lagi saya akan menjadi bapak bagi anak pertama saya. Mudah-mudahan proses persalinan istri saya berjalan lancar.

Buku yang kondisi fisiknya sudah tidak begitu bagus ini diterbitkan kali pertama pada tahun 2005 oleh Gajah Mada University Press. Ditulis oleh Prof. Dr. Burhan Nurgiyantoro.

Apa itu Sastra?

Menurut Wikipedia, sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta: śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”.

Sastra berbicara tentang hidup dan kehidupan, tentang berbagai persoalan hidup manusia, tentang kehidupan di sekitar manuasia, tentang kehidupan pada umumnya, yang semuanya diungkapkan dengan cara dan bahasa yang khas.

Prof. Dr. Burhan Nurgiyantoro (Sastra Anak. Hal.: 2)

Dengan kata lain sastra adalah informasi yang bersifat mendidik dan dapat dijadikan petunjuk atau pedoman yang diungkapkan dengan cara dan bahasa yang unik atau khusus yang bermanfaat untuk hidup, penghidupan, dan kehidupan.

Sastra Anak di Usia Awal

Di kalangan masyarakat Jawa dikenal tembang dolanan (lagu anak-anak) seperti Gundul-Gundul Pacul, Menthog-Mentog, Sluku-Sluku Bathok, Ilir-Ilir, dll. Tembang dolanan tersebut merupakan karya sasta dalam bentuk syair yang memiliki pesan-pesan nila/moral (moral value) yang sangat tinggi dan dikemas dalam bahasa yang mudah diterima anak-anak sebagai nyanyian. Tidak hanya indah, namun juga menyenangkan.

Supaya anak mampu menemukan pedoman dan petunjuk hidup dari sebuah karya sastra, diperlukan peran orang tua menyampaikan dan menjelaskan pesan-pesan yang bisa diambil. Misalnya Gundul-Gundul Pacul memiliki pesan kepemimpinan. Sluku-Sluku Bathok memberi pesan ketatan beribadah dan manfaatnya. Ilir-Ilir memberi pesan pentingnya menjaga martabat hidup dan memanfaatkan waktu dan fasilitas/situasi.

Menurut Prof. Burhan, sastra anak usia awal dapat ditemukan dalam berbagai macam model berikut:

  • Puisi Lagu Dolanan
  • Dongeng atau cerita lisan
  • Buku alfabet
  • Buku berhitung
  • Buku konsep
  • Buku gambar tanpa kata
  • Buku bergambar

Semoga buku ini memberi wawasan kepada saya dalam nanti mendidik anak melalui sastra. Supaya anak saya dapat menemukan nilai-nilai kebaikan dari karya sastra yang berguna bagi hidup, penghidupan, dan kehidupannya kelak; dan tetap dalam jalur sebagaimana Tuhan menciptakannya. Hingga akhirnya nanti — saat waktunya tiba — bisa berjumpa kembali dengan Tuhannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *